Selasa, 01 Maret 2016

Menulislah, karena itu warisanmu

                                                                                                                        01-Maret-2016
Menulislah, karena itu warisanmu
By : ulfah nury
Semua yang ber-nyawa pasti akan mati. Yah, begitulah salah satu ayat dalam kitab suci kita umat islam, Al-Qur’an. Entah hari ini, ataupun besok, kematian masih menjadi misteri dalam kehidupan ini, dan waktunya belum ada yang bisa mengetahuinya dengan pasti kapan ia akan datang. Muda, tua, kaya, miskin, berpangkat atau malah terhina di masyarak semuanya tidak luput dengan yang namanya mati. Alangkah baiknya jika semasa hidup, kita berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Di dunia disayangi, ketika tiada dirindukan.
Menjadi berarti untuk orang lain, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan telah memberikan petunjuk yang jelas mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Bermanfaat untuk orang lain, salah satunya bisa kita lakukan dengan menulis. Menulis tentang apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan, apa yang kita sukai, dan apa yang ingin kita bicarakan tapi tidak bisa diutaraka dengan kata-kata.
Menulis adalah cara kita berbicara, walaupun tidak ada yang mendengar secara langsung. Menulis adalah cara kita untuk mengabadikan suatu kenangan, agar tidak lapuk dimakan zaman, dan tidak usang dimakan usia. Menulis adalah cara kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, tidak dengan ucapan tapi melalui kata. Menulis adalah dakwah, menyampaikan kebaikan kepada umat. Menulis adalah perintah agama, amar makruf nahi munkar, menyeru kebaikan kepada manusia melalui kata.
Sekilas, mengingat kembali sejarah pada masa Nabi Muhammad SAW, pada saat itu tidak ada yang namanya buku, pena atau bahkan komputer yang bisa dengan mudah untuk menulis. Andaikan Rasulullah tidak menyuruh para sahabat untuk menulis hafalan al-Qur’annya, niscaya kitab suci tersebut tidak akan sampai kepada kita sebagai pedoman, penuntun dalam kehidupan. Andaikan para perawi hadits, tidak menuliskan hadits yang diterimanya dari Rasul, niscaya kita tidak akan mengenal hadits, dan bahkan kosakata hadits pun tidak ada dalam kamus perbendaharaan kata kita saat ini. Anadaikan para ulama tidak menulis pengetahuannya, niscaya kita tidak akan mengalami zaman dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Menulislah karena itu ladang pahala yang biasa kita panen kebaikannya. Menulislah sebagai investasi kebaikan, tabungan untuk akhirat.  
Dizaman serba teknologi yang super canggih saat sekarang ini, terjadi kecenderungan masyarakat untuk  sedikit berbicara. Banyak dari kita bahkan kehilangan kata-kata dan kaku saat menyapa orang baru disampingnya. Semuanya hanya lewat kata kita berbicara melalui smartphone canggih yang juga mengambil peran sosial kita sebagai masyarakat. Hari ini, menegur orang asing dibilang sok kenal. Berbicara dengan orang baru dibilang sok akrab. Lambat laun, interaksi sosial secara langsung antar kita juga semakin hilang.
Tulisan mengambil tempat yang tinggi saat ini. Tetapi tulisan yang sering kita katakan sebagai status di media sosial, yang fungsinya untuk sebagian kalangan untuk mengungkapkan perasaannya, menyindir, atau bahakan laporan untuk kegiatannnya hari ini. Yah, melalui tulisan tersebut, semua orang bisa dengan cepat mengetahui informasi dari yang bersangkutan.
Teknologi, seyogianya juga harus kita optimalkan dengan baik, untuk menunjang sumber daya manusia. Bayangkan, segala kemudahan tersebut harusnya juga menjadikan kita manusia yang lebih aktif lagi, bukan menjadi pasif dan tidak peka kepada lingkungan sekitar. Menjadi aktif dan meningkatkan potensi diri bisa dilakukan dengan tulisan status tersebut. Tulislah yang baik, yang mengandung kebaikan, sehingga ketika ada orang yang melakukan kebaikan tersebut, kita juga kecipratan pahala, jika tidak adapun yang melakukannya, kita tetap akan mendapat ganjaran yang baik sebab, tulisan itu dakwah dan agama mengajarkan kita untuk berdakwah         “katakanlah, walaupun satu ayat”.
Diantara kita, ada orang yang tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada orang lain. Dalam bahasa gaulnya, kita bilang curhat-curhatan, karena mereka adalah orang yang suka memendam, dan tidak terlalu terbuka kepada orang lain. Tipe orang seperti ini mengungkapkan perasaannya dengan tulisan, karena dia bisa menceritakan semuanya, segala apa yang diarasakannnya. Keuntungan dari menulis dengan mengungkapakan perasaan seperti ini, kita bisa merasakan emosi yang sama, kenangan yang yang sama ketika membacanya dan kenangan itu akan abadi dalam tulisan.
Menulislah, karena dengan demikian kita bisa berkenalan dengan generasi yang akan datang, tidak ada yang tahu kapan usia kita akan habis, tapi dengan menulis, kita bisa menyampaikan kepada generasi yang akan datang, atau anak-anak, cucu-cucu kita bahwa kita pernah hidup didunia ini. Kita bisa mengutarakan bagaimana kita hidup, dan tulisan itu adalah warisan. Warisan yang bisa kita tinggalkan untuk dunia, bahwa kita pernah ada disini.
Tulisan yang bisa kita baca hari ini, adalah warisan dari penulis untuk kita. Warisan pengetahuan, ataupun pengalaman mereka yang dituliskan sehingga kita bisa mengambil hikmah dari pengalaman tersebut.
Sama halnya dengan para sahabat yang menuliskan hafalannya di dedaunan kurma dan tulang-belulang hewan karena tidak ada buku dan pena pada saat itu. Seperti para penghafal hadits, yang menuliskan hafalan haditsnya, juga para ulama yang menuliskan pengetahuannya sehingga kita memasuki masa yang penuh dengan pengetahuan, semuanya adalah warisan. Warisan untuk kita sebagai generasi penerus. Maka, menulislah karena itu adalah warisanmu. Warisan untuk generasi yang akan datang yang kita harapkan bisa lebih baik dari generasi hari ini, generasi yang bisa memperbaiki keadaan atau kesalahan-kesalahan kita hari ini.
Ketika semuanya sudah diniatkan untuk kebermanfaatan manusia. Rezeki dari Tuhan pasti akan menyertai. Jika kita mengukur rezeki dengan financial atau materi, tulisan itu juga bisa membawa penambahan financial. Banyak contoh penulis yang yang finansialnya bertambah banyak karena dengan menulis. Seperti contohnya, Asmadia yang bukunya banyak diadopsi kedalam film layar lebar. Dan hampir seluruh bukunya merupakan buku best seller.
Selain rezeki financial tersebut, ada rezeki yang tak bisa dinilai yakni kebahagiaan, bahagia karena bisa menyalurkan hobi, dan ternyata hobi tersebut bisa kita gunakan untuk dakwah, investasi tabungan kebaikan,  juga dihargai di dunia dengan penambahan financial dan warisan untuk anak-cucu.  Subahanallah! Sungguh, nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kau dustakan?
Mari sama-sama menulis, membuat warisan kebaikan kepada anak-cucu sebagai jalan dakwah. J